KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

  1. A. Pendahuluan

Komunikasi antarbudaya adalah merupakan bagian dalam ilmu komunikasi. Ribuan tahun yang lalu, para tokoh dan filsuf menekankan  betapa pentingnya berbicara dengan bahasa orang lain melalui teknik-teknik berkomunikasi yang memperhatikan latar belakang audiens. Semua itu tidak lepas dari tujuan komunikasi dalam mencapai komunikasi yang efektif. Keefektifan itu akan berhasil jika mampu memilih dan menjalankan teknik-teknik berkomunikasi serta menggunakan bahasa yang sesuai dengan latar belakang orang tersebut. Komunikasi antarbudaya sebenarnya telah ada sejak dulu, berlangsung sepanjang kehidupan manusia.

Sebuah teori, termasuk teori komunikasi hanya dapat diterapkan dalam suatu lingkungan atau situasi tertentu. Asumsi sebuah teori komunikasi merupakan seperangkat pernyataan yang menggambarkan sebuah lingkungan yang valid, tempat dimana sebuah teori komunikasi dapat diterapkan atau diaplikasikan.

Maka dapat dikatakan, asumsi sebuah teori komunikasi antarbudaya merupakan seperangkat pernyataan yang menggambarkan sebuah lingkungan yang valid tempat dimana teori komunikasi antarbudaya itu dapat diterapkan. Untuk memahami kajian komunikasi antarbudaya, maka kita harus mengenal beberapa asumsi, yaitu:

-          Komunikasi antarbudaya dimulai dengan anggapan dasar bahwa ada perbedaan persepasi antara komunikator dengan komunikan.

-          Dalam komunikasi antarbudaya terkandung isi dan relasi antarpribadi.

-          Gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi.

-          Komunikasi antarbudaya bertujuan mengurangi tingkat ketidakpastian.

-          Komunikasi berpusat pada kebudayaan.

-          Efektifitas antarbudaya merupakan tujuan komunikasi antarbudaya.

Untuk lebih jelasnya mengenai enam hal di atas, kami akan menguraikannya secara lebih rinci dalam makalah ini.

  1. B. Pembahasan

Perbedaan konsep antara komunikator dengan komunikan

Komunikator dalam komunikasi antarbudaya adalah pihak yang mengawali komunikasi, dalam artian ia memulai pengiriman pesan tertentu kapada orang lain yang disebut komunikan.Komunikan sendiri berarti pihak yang menerima pesan tertentu sekaligus menjadi sasaran komunikasi dari komunikator.

Dalam komunikasi antarbudaya, komunikasi terjadi antara dua orang yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Penyampai pesan adalah anggota dari suatu budaya dan penerima pesannya juga merupakan anggota suatu budaya lainnya. Karena perbedaan iklim budaya tersebut lah yang menjadi sebuah titik perhatian adalah mengenai pesan-pesan yang menghubungkan individu atau kelompok yang berbeda budaya.

Perbedaan karakteristik antarbudaya antara lain ditentukan oleh latar belakang ras dan etnis, usia dan jenis kelamin, latar belakang sistem politik, kepercayaan, minat dan kebiasaan, status, kemampuan berbicara dan menulis, bentuk-bentuk dialek, dan sebagainya.

Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang efektif, dimana pesan yang disampaikan penyampai (komunikator) dapat diperhatikan, diterima dan dipahami oleh penerima (komunikan) secara menyeluruh. Setiap proses komunikasi berupaya untuk mencapai keefektifan dalam berkomunikasi. Dalam komunikasi antarbudaya, perbedaan budaya secara alamiah dianggap suatu hal yang terkadang menjadi jurang pemisah antara komunikator dan komunikan.

Prinsip-prinsip yang terkandung dalam perbedaan tersebut umumnya mengimplikasikan bahwa hambatan komunikasi antarbudaya seringkali berupa perbedaan persepsi terhadap norma-norma budaya, pola-pola berpikir, struktur budaya, dan sistem budaya. (Alo Liliweri, Komunikasi Antarbudaya, 2007).

Pada intinya, komunikasi antarbudaya pun menginginkan terjadinya komunikasi yang baik dan efektif. Oleh karena itu, jika ingin menjadikan komunikasi antarbudaya berhasil, maka hendaklah setiap orang mengakui, menerima, dan memahami berbagai perbedaan budaya sebagaimana adanya, bukan sebaliknya memaksakan budaya tertentu yang kita kehendaki untuk diterima dan dipahami orang lain.

Komunikasi antarbudaya mengandung isi dan relasi antarpribadi

Proses komunikasi antarbudaya berakar dari relasi sosial antarbudaya yang menghendaki dan berkeinginan menwujudkan adanya interaksi sosial. Relasi antarmanusia yang berbeda budaya tersebut sangat mempengaruhi bagaimana isi dan makna dari sebuah pesan yang disampaikan diinterpretasi.

Watzlawick, Beavin, dan Jackson (1967) menekankan bahwa isi (content of communication) komunikasi tidak berada dalam sebuah ruang yang terisolasi. Isi (content) dan makna (meaning) adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, dua hal yang juga esensial dalam membentuk relasi. (Alo Liliweri, Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya, 2007).

Perbedaan budaya yang dimiliki oleh dua orang atau dua kelompok yang memiliki hubungan relasi tertentu, akan memberikan pengaruh bagaimana pesan tersebut diinterprestasikan oleh lawan bicara. Seperti pada contoh berikut, seorang teman sebaya anda meminta tolong ambilkan sebuah buku di mejanya dengan berkata “apakah anda dapat mengambilkan buku di atas meja saya?”. Maka yang anda interpretasikan adalah sebuah pesan permintaan yang tidak begitu mendesak. Anda menganggap seorang teman yang sedang meminta bantuan anda. Berbeda dengan ketika kalimat tersebut dilontarkan oleh seorang dosen anda, maka anda akan menginterpretasikan sebuah pesan tersebut adalah sebuah perintah dan harus dilakukan dengan segera.

Hubungan relasi antara anda dengan teman anda dan anda dengan dosen anda menjadi sebuah alasan mengapa terdapat perbedaan dalam menginterpretasi pesan. Meskipun terdapat makna (meaning) atas isi pesan yang sama, yaitu “mengambil buku”, namun karena terdapat hubungan relasi tertentu yang berbeda, maka kalimat itu bisa diinterpretasikan juga secara berbeda, yaitu sebagai permintaan batuan atau sebuah perintah.

Gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi

Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa komunikasi antarbudaya pada intinya bermakna proses komunikasi antarpribadi (komunikator dan komunikan) yang berbeda latar belakang budaya.

Secara normatif, komunikasi antarpribadi itu mengandalkan gaya berkomunikasi yang dihubungkan dengan nilai-nilai yang dianut orang. Nilai-nilai itu berbeda diantara kelompok etnik yang dapat menunjang atau mungkin merusak perhatian tatkala orang berkomunikasi. Di sini, gaya itu bisa berkaitan dengana individu maupun gaya dari sekelompok etnik. Begitulah pendapat Candia Elliot (1999) yang menjelaskan bagaimana pengaruh gaya personal.

Dalam komunikasi antarbudaya, gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi. Komunikasi antarpribadi akan terlihat efektif atau tidak melalui pengaruh gaya personal komunikator atau komunikan dalam menyampaikan atau menerima pesan. Gaya komunikasi personal dapat ditunjukkan dengan cara kognitif maupun sosial. Banyak sekali tipe atau gaya personal yang dimiliki manusia dalam melakukan proses komunikasi. Diantaranya, terdapat orang yang senang bercakap dengan menampakkan wajah senang atau penuh dengan kehangatan, namun ada pula orang yang bercakap dengan wajah dingin dan kurang bersahabat, inilah yang biasanya kemudian lawan bicaranya memiliki perasaan kurang enak. Terkadang juga dapat berhadapan dengan orang yang bersikap otoriter, namun akan ditemui pula orang yang bersikap sangat demokratis. Ada orang yang menghargai lawan bicara dengan cara menatap mata, namun ada pula yang bersikap acuh dan menatap ke segala arah saat proses komunikasi berlangsung. Ada yang berkomunikasi dengan nada suara tinggi, namun ada pula yang bicara cukup dengan suara lembut.

Contoh lainnya, Gudykunst dan Kim (1992) memberi contoh sebagai berikut: perhatikan kunjungan seorang asing yang menganut budaya bahwa kontak mata selama berkomunikasi adalah tabu di Amerika Utara. Bila si orang asing berbicara kepada penduduk Amerika Utara dengan menghindari kontak mata, maka ia dianggap menyembunyikan sesuatu atau tidak berkata benar.

Banyak sekali gaya personal dalam berkomunikasi. Pengalaman sosial dalam berkomunikasi yang kita dapatkan, terutama dalam komunikasi antarbudaya yang menghadapi bermacam-macam lawan bicara dari berbagai latar belakang budaya membuat pengalaman kita semakin bertambah. Bahkan mungkin saja kita dapat berpendapat, mengavaluasi secara kognitif tentang gaya personal maupun gaya kelompok tertentu dalam berkomunikasi.

Tujuan komunikasi antarbudaya

Salah satu hal yang paling ditekankan adalah tujuan dari komunikasi antarbudaya adalah mengurangi tingkat ketidakpastian tentang orang lain. Mungkin saja pertemuan antardua orang menimbulkan permasalahan mengenai relasi dan muncullah beberapa pertanyaan seperti: bagaimana perasaan dia terhadap saya, bagaimana sikap dia terhadap saya, apa yang akan saya peroleh jika saya berkomunikasi dengan dia, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Kebingungan yang dituangkan dalam pertanyaan tadi akan membuat orang merasa harus berkomunikasi, sehingga permasalahan relasi terjawab dan kita merasa diri berada dalam suasana relasi yang juga lebih pasti. Selanjutnya setelah berkomunikasi, seseorang akan mengambil sebuah keputusan untuk meneruskan atau menghentikan komunikasi tersebut. Dalam teori informasi, yang juga kajian komunikasi, tingkat ketidaktentuan atau ketidakpastian itu akan berkurang ketika orang mampu melakukan proses komunikasi secara tepat.

Biasanya, semakin besar derajat perbedaan antarbudaya, maka akan semakin besar pula kemungkinan kehilangan peluang untuk merumuskan suatu tingkat kepastian sebuah komunikasi yang efektif. Hal ini disebabkan karena ketika berkomunikasi dengan seseorang dari kebudayaan yang berbeda, maka dipastikan akan memiliki perbedaan pula dalam sejumlah hal.

Gudykunstt dan Kim (1984) menunjukkan bahwa orang-orang yang kita tidak kenal selalu berusaha mengurangi tingkat ketidakpastian melalui peramalan yang tepat atas relasi antarpribadi. Usaha untuk mengurangi ketidakpastian itu dapat dilakukan melalui tiga tahap interaksi, yaitu:

1.)    Pra-kontak atau tahap pembentukan kesan melalui simbol verbal maupun non verbal. Dalam artian sebuah pertanyaan apakah komunikan suka berkomunikasi atau malah sebaliknya menghindari komunikasi,

2.)    Initial contact and impression, yakni sebuah tanggapan lanjutan atas kesan yang ditimbulkan atau muncul dari kontak pertama tersebut., seperti bertanya pada diri sendiri: apa saya seperti dia, apa dia mengerti saya, apa merugikan waktu saya jika berkomunikasi dengan dia, atau pertanyaan lainnya yang serupa,

3.)    Closure, mulai membuka diri yang semula tertutup, melalui atribusi dan pengembangan kepribadian. Teori atribusi sendiri menganjurkan agar kita lebih mengerti dan memahami perilaku orang lain dengan menyelidiki motivasi atas suatu perilaku atau tindakan dari dia (lawan bicara). Pertanyaan yang relevan adalah apa yang mendorong dia berkata, berpikir, atau bertindak demikian. Jika seseorang menampilkan tindakan yang positif, maka kita akan memberikan atribusi motivasi yang positif kepada orang tersebut, karena alasan dia bernilai bagi relasi kita. Sebaliknya, jika seorang itu menampilkan tindakan yang negatif, maka kita akan memberikan atribusi motivasi yang negatif pula. Sementara itu, kita juga dapat mengembangkan sebuah kesan terhadap orang itu melalui evaluasi atas kehadiran sebuah kepribadian implisit. Karena di saat awal komunikasi atau pada bagian pra-kontak, telah memberikan kesan bahwa orang itu baik, maka semua sifat positifnya akan mengikuti dia, misalnya karena dia baik maka beranggapan bahwa dia pun jujur, ramah, setia kawan, penolong, tidak sombong, dan lainnya.

(Alo Liliweri, Komunikasi Antarbudaya, 2007).

Komunikasi berpusat pada kebudayaan

Gatewood (1999) menjelaskan bahwa kebudayaan yang meliputi seluruh kemanusiaan itu sangatlah banyak. Hal tersebut meliputi seluruh periode waktu dan tempat. Dalam artian, jika komunikasi merupakan bentuk, metode, teknik, proses sosial dari kehidupan manusia yang terus membudaya , maka komunikasi juga merupakan sarana bagi transmisi kebudayaan. Oleh karenanya, kebudayaan itu sendiri merupakan sebuah komunikasi.

Kebudayaan sendiri adalah sesuatu yang dapat dipelajari, dapat ditukar, dan dapat berubah. Itu pun terjadi hanya jika ada interaksi antarmanusia dalam bentuk komunikasi antarpribadi maupun antarkelompok budaya (berbeda latar belakang budaya) secara terus-menerus. Kebudayaan diartikan sebagai sebuah kompleksitas total dari seluruh pikiran, perasaan, dan perbuatan manusia , maka untuk mendapatkannya dibutuhkan sebuah usaha yang selalu berurusan dengan orang lain.

Pada akhirnya muncul pertanyaan mengenai hubungan antara komunikasi dengan kebudayaan; apakah komunikasi ada dalam kebudayaan atau kebudayaan merupakan bagian komunikasi?. Smith (1976) menjawabnya dengan kalimat “komunikasi dan budaya tidak dapat dipisahkan”. Dan tokoh lainnya, Edward T. Hall mengatakan bahwa komunikasi adalah kebudayaan dan kebudayaan adalah komunikasi.

Dua hal yang setidaknya memberi jawaban; pertama, dalam kebudayaan ada sistem dan dinamika yang mengatur tata cara pertukaran simbol-simbol komunikasi, dan kedua, hanya dengan komunikasi maka pertukaran simbol-simbol dapat dilakukan dan kebudayaan akan tetap eksis jika ada komunikasi.

Pada hakikatnya, proses komunikasi antarbudaya berproses sama seperti komunikasi lainnya, yaitu secara interaktif dan transaksional serta dinamis.

Komunikasi antarbudaya yang interaktif adalah komunikasi yang dilakukan olh komunikator dengan komunikan dalam dua arah atau two way communication, namun masih berada pada tahap rendah ( Wahlstrom, 1992). Jika proses komunikasi atau pertukaran pesan  tersebut telah sampai pada bentuk saling mengerti, memahami perasaan dan tindakan bersama maka komunikasi itu telah memasuki tahap lebih tinggi dengan kata lain telah ada pada tahap transaksional (Hybels dan Sandra, 1992).

Tiga unsure penting yang meliputi komunikasi transaksional adalah; pertama, keterlibatan emosional yang tinggi, berlangsung secara terus menerus dan berkesinambungan atas pertukaran pesan, kedua, peristiwa komunikasi tersebut meliputi seri waktu, yaitu berkaitan dengan masa lalu, kini, dan yang akan datang, dan yang terakhir adalah partisipan dalam komunikasi antarbudaya yang sedang berlangsung menjalankan peran tertentu.

Komunikasi interaktif maupun transaksional keduanya berproses yang bersifat dinamis. Alasannya, karena proses tersebut berlangsung dalam konteks sosial yang hidup, berkembang dan bahkan berubah berdasarkan waktu, situasi, dan kondisi tertentu.  Karena proses komunikasi yang dilakukan merupakan merupakan komunikasi antarbudaya maka kebudayaan merupakan dinamisator atau dengan kata lain sebagai penghidup bagi proses komunikasi yang sedang berlangsung.

Efektifitas komunikasi antarbudaya

Kenyataan dan kehidupan sosial telah membuktikan bahwa manusia di muka bumi tidak dapat hidup sendiri. Mereka pasti melakukan interaksi sosial dan selalu berhubungan satu sama lain. Dan interaksi itu tidak akan terjadi tanpa adanya proses komunikasi. Itu artinya, dalam komunikasi antarbudaya, interaksi antarbudaya pun tidak akan pernah ada jika tidak ada komunikasi antarbudaya. Segala kefektivan dalam interaksi antarbudaya tergantung pada komunikasi antarbudaya. Gudykunst menyakini bahwa kecemasan dan ketidakpastian adalah dasar penyebab dari kegagalan komunikasi pada situasi antarbudaya.

Konsep diatas sekaligus menekankan bahwa segala tujuan komunikasi antarbudaya akan tercapai dan dikatakan berhasil jika bentuk-bentuk hubungan antarbudaya menggambarkan upaya dari peserta komunikasi untuk memperbaharui relasi antar komunikator dan komunikan, menciptakan dan memperbaharui sebuah manajemen komunikasi yang efektif, lahirnya sikap dan semangat kesetiakawanan, persahabatan, pertemanan, kekerabata, hingga kepada pengurangan konflik antar keduanya.

Dengan pemahaman mengenai komunikasi antar budaya dan bagaimana komunikasi dapat dilakukan, maka kita dapat melihat bagaimana komunikasi dapat mewujudkan perdamaian dan meredam konflik di tengah-tengah masyarakat. Dengan komunikasi yang intens kita dapat memahami akar permasalahan sebuah konflik, membatasi dan mengurangi kesalahpahaman, komunikasi dapat mengurangi konflik sosial. Menurut Charles E Snare bahwa usaha meredam konflik dan mendorong terciptanya perdamaian tergantung bagaimana cara kita mendefinisikan situasi orang lain agar kita dapat mencapai perdamaian dan kerjasama.

Untuk mencapai komunikasi antar budaya yang efektif, individu seharusnya mengembangkan kompetensi antar budaya; merujuk pada keterampilan yang dibutuhkan untuk mencapai komunikasi antar budaya yang efektif Jandt (1998, 2004) mengidentifikasikan empat keterampilan sebagai bagian dari kompetensi antar budaya, yaitu personality strength, communication skills, psychological adjustment and cultural awareness. Tidak dapat diragukan bahwa kompetensi antar budaya adalah sebuah hal yang sangat penting saat ini. Seperti halnya pendatang sementara yang disebut sojourners, yaitu sekelompok orang asing (stranger) yang tinggal dalam sebuah negara yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda dengan negara tempat mereka berasal.

  1. C. Kesimpulan

Komunikasi antarbudaya merupakan pertukaran pesan antara komunikator dengan komunikan yang berasal dari latar belakang budaya berbeda.

Komunikator dalam komunikasi antarbudaya adalah pihak yang mengawali komunikasi, dalam artian ia memulai pengiriman pesan tertentu kapada orang lain yang disebut komunikan.Komunikan sendiri berarti pihak yang menerima pesan tertentu sekaligus menjadi sasaran komunikasi dari komunikator.

Perbedaan karakteristik antarbudaya antara lain ditentukan oleh latar belakang ras dan etnis, usia dan jenis kelamin, latar belakang sistem politik, kepercayaan, minat dan kebiasaan, status, kemampuan berbicara dan menulis, bentuk-bentuk dialek, dan sebagainya.

Dalam komunikasi antarbudaya, setiap proses komunikasinya mengandung isi dan relasi antar pribadi. Relasi antar pribadi atau kelompok sangat mempengaruhi bagaimana nantinya pesan itu diinterpretasi. Meski terdapat isi dan makna yang sama, namun relasi menjadi pengaruh terhadap penginterpretasian pesan yang disampaikan kepada lawan bicara.

Watzlawick, Beavin, dan Jackson (1967) menekankan bahwa isi (content of communication) komunikasi tidak berada dalam sebuah ruang yang terisolasi. Isi (content) dan makna (meaning) adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, dua hal yang juga esensial dalam membentuk relasi.

Perbedaan budaya yang dimiliki oleh dua orang atau dua kelompok yang memiliki hubungan relasi tertentu, akan memberikan pengaruh bagaimana pesan tersebut diinterprestasikan oleh lawan bicara.

Ternyata, dalam komunikasi yang berlangsung antarbudaya juga mengenal gaya personal dalam berkomunikasi. Gaya personal yang dimiliki masing-masing orang memberikan pengaruh terhadap proses komunikasi tersebut. Komunikasi antarpribadi akan terlihat efektif atau tidak melalui pengaruh gaya personal komunikator atau komunikan dalam menyampaikan atau menerima pesan. Bagaimana nantinya komunikasi tersebut berlangsung harmonis atau malah sebaliknya.

Secara normatif, komunikasi antarpribadi itu mengandalkan gaya berkomunikasi yang dihubungkan dengan nilai-nilai yang dianut orang. Nilai-nilai itu berbeda diantara kelompok etnik yang dapat menunjang atau mungkin merusak perhatian tatkala orang berkomunikasi. Di sini, gaya itu bisa berkaitan dengan individu maupun gaya dari sekelompok etnik.

Salah satu tujuan komunikasi antarbudaya yang kami bahas adalah mengurangi tingkat ketidakpastian, ketidaktentuan, ataupun kebingungan. Permasalahan relasi biasanya akan lebih pasti ketika seseorang telah melakukan proses komunikasi.

Setelah berkomunikasi, seseorang akan mengambil sebuah keputusan untuk meneruskan atau menghentikan komunikasi tersebut. Dalam teori informasi, yang juga kajian komunikasi, tingkat ketidaktentuan atau ketidakpastian itu akan berkurang ketika orang mampu melakukan proses komunikasi secara tepat.

Pada dasarnya, setiap proses komunikasi berpusat pada kebudayaan. Bahkan ada jawaban yang menyatakan bahwa komunikasi adalah kebudayaan dan kebudayaan adalah komunikasi. Jelas, keduanya tidak dapat dipisahkan.

Gatewood (1999) menjelaskan jika komunikasi merupakan bentuk, metode, teknik, proses sosial dari kehidupan manusia yang terus membudaya , maka komunikasi juga merupakan sarana bagi transmisi kebudayaan. Oleh karenanya, kebudayaan itu sendiri merupakan sebuah komunikasi.

Terakhir yang akan kami simpulkan, bahwa komunikasi antarbudaya pun memiliki berbagai tujuan yang menjadikan komunikasi tersebut efektif dan dikatakan berhasil.

Kenyataan dan kehidupan sosial telah membuktikan bahwa manusia di muka bumi tidak dapat hidup sendiri. Mereka pasti melakukan interaksi sosial dan selalu berhubungan satu sama lain. Dan interaksi itu tidak akan terjadi tanpa adanya proses komunikasi. Itu artinya, dalam komunikasi antarbudaya, interaksi antarbudaya pun tidak akan pernah ada jika tidak ada komunikasi antarbudaya. Segala kefektivan dalam interaksi antarbudaya tergantung pada komunikasi antarbudaya.

Konsep diatas sekaligus menekankan bahwa segala tujuan komunikasi antarbudaya akan tercapai dan dikatakan berhasil jika bentuk-bentuk hubungan antarbudaya menggambarkan upaya dari peserta komunikasi untuk memperbaharui relasi antar komunikator dan komunikan, menciptakan dan memperbaharui sebuah manajemen komunikasi yang efektif, lahirnya sikap dan semangat kesetiakawanan, persahabatan, pertemanan, kekerabata, hingga kepada pengurangan konflik antar keduanya.

Nama: khairuddhiya fauzan
Kelas : 1db12
Npm: 33111951

sumber : http://nurhasanahnana.wordpress.com/2010/04/07/komunikasi-antar-budaya/

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply